Jus Wortel

21 Oktober 2008

“JUS wortel?” tanyaku tak percaya. Ia mengangguk dan tersenyum. Aku hanya menggelengkan kepala. Jus wortel, seperti apa rasanya? Membayangkannya saja sudah cukup membuatku ketakutan.

“Jus alpukat aja,” sahutku saat ia menanyakan jus apa yang ingin kupesan. Gilirannya menggelengkan kepala. Tapi, ia tak memberi komentar apapun. Mungkin dalam hati saja, seperti yang kulakukan.

Ia bilang, jus wortel itu baik untuk mata. Aku tersenyum dan mengatakan padanya kalau ia sok tahu. Katanya, aku harus melihat sendiri buktinya pada kelinci. Tak ada kelinci yang pakai kaca mata. Itu karena mereka rajin makan wortel. Aku tertawa mendengarnya.

Tak butuh berapa lama, segelas besar jus wortel itu habis diminumnya. Aku melongo dan melirik gelas jus alpukatku sendiri yang baru beberapa centi saja kuminum. Kubayangkan bila saja para kelinci itu punya blender seperti halnya manusia. Mungkin, semua wortel di dunia ini akan cepat habis dan manusia tak akan sempat berbagi wortel dengan para kelinci. Hahaha…

Ia juga menyarankanku untuk sesekali mencoba jus wortel. Aku berhenti meneguk jus alpukatku mendengar pernyataan itu. Aku menggeleng cepat dan mengatakan kalau aku tak suka jus wortel. Bagaimana mungkin aku harus meminum sesuatu yang tidak kusukai? Yang benar saja…

Kisah jus wortel dan jus alpukat mirip dengan kisah manusia. Terkadang apa yang kita inginkan atau apa yang sedang kita jalani selama ini, bukanlah apa yang sebenarnya menjadi pilihan kita. Ketika seseorang menawarkan padaku segelas jus wortel atau jus alpukat, maka kusadari kalau itu sebuah pilihan.

Sahabat tercintaku meninggalkan seorang lelaki demi lelaki lainnya yang lebih ia cintai. Sahabatku yang lain memilih kota Jogja sebagai ladang di mana ia menanam dan menyirami mimpi-mimpinya setiap hari. Bagiku, mereka telah menentukan pilihan.

Lalu, apakah mereka yang tinggal di kolong jembatan dan di sisi rel kereta api di sudut-sudut kota Jakarta juga telah menentukan pilihan? Kebanyakan dari mereka saat ditanyakan hal itu, menjawab kalau mereka memang tak punya pilihan. Benarkah? Bagiku tidak.

Sesungguhnya, semua ini berkaitan dengan takdir. Tapi, apakah itu artinya kita tak bisa memilih takdir kita? Apakah kita hanya bisa pasrah dengan apa yang telah digariskan oleh takdir kepada kita?

Ada cerita menarik tentang takdir ini. Suatu hari, seorang Umar bin Khatab pernah menghindari sebuah jalan kecil yang di lorongnya ada sebuah atap rumah yang telah rapuh. Sewaktu-waktu, atap itu dapat menimpa siapa saja yang kebetulan lewat di bawahnya. Saat beliau memilih untuk lewat jalan lainnya, salah seorang sahabat bertanya. “Ya Umar, apakah Anda takut pada takdir Anda?” Umar tersenyum dan menjawab. “Sesungguhnya, aku hanya lari dari takdir yang satu ke takdir lainnya.”

Cerita itu mengajarkan pada kita, bahwa seharusnya kita mengerti apa yang dimaksud dengan takdir. Tak selamanya kita harus pasrah dan menganggap kalau semua yang ada dalam hidup kita adalah takdir. Kita harus menjawab takdir, ketika ia bertanya apa yang sebenarnya kita inginkan. Kita harus percaya bahwa takdir telah memberikan kita sebuah pilihan. Takdir mencoba memahami kita, dan sepatutnya kita juga mampu memahami apa keinginan kita sendiri.

Mintalah kepada-Ku, maka akan Kukabulkan. Begitulah kurang lebih firman Tuhan kepada kita. Dari firman tersebut kita bisa menyadari bahwa Tuhan-lah yang menguasai takdir. Mintalah kepada-Nya untuk mengubah takdir kita menjadi lebih baik. Meminta sesuatu bukanlah selamanya tanda sebuah kelemahan atau keputusasaan. Terlebih meminta kepada-Nya. Itu adalah sebuah kejujuran dan pengakuan akan eksistensi kita sebagai seorang manusia yang selalu terhubung dengan-Nya.

Memang, jus wortel bukanlah pilihan yang buruk. Bahkan bukan sesuatu yang salah. Tapi ketika aku meminta jus alpukat, maka aku tahu apa yang benar-benar aku inginkan. Itulah yang aku sebut sebagai takdir.

0 komentar:

  © Blogger template Writer's Blog by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP